yudifingernote

Just another WordPress.com site

Terang Redup Fenomena Penculikan NII

leave a comment »

Akhir-akhir ini (Maret-April) kita menyaksikan pemberitaan media mainstream baik elektronik (Televisi, Online/internet, Radio) maupun cetak (koran, tabloid, majalah) sekitar 60 persen memuat soal Negara Islam Indonesia (NII).

Sekedar ingin meluapkan apa yang ada dipikiran dengan kenyataan dilapangan tertuang dalam berita maupun pengamatan langsung terkait dua fenomena itu, saya ingin mengekskpersikan melalui analisa awam.

Masalah NII, benar adanya jika sejumlah kalangan menilai, fenomena aliran organisasi/kelompok yang dianggap makar (subversif) ini, adalah problematika sosial klasik.

Alasan tersebut bukan sekedar hipotesis tanpa data dan fakta, misalnya kejadian hilangnya Laela Febriani alias Lian, 26, salah seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hingga ditemukan di kawasan Masjid Atta’awun, Puncak, Cisarua, Bogor, Minggu (10/4) malam.

Peristiwa hilangnya Lian terus mewarnai halaman, tayangan, media cetak/elektronik selama dua pekan. Baik sejak dinyatakan hilang hingga ketemu, media mengekspose dari berbagai angle (sudut pandang), eksplorasi dilingkungan tempat kerja dan keluarga terus diangkat hingga motif hilangnya ibu anak satu itu.

Namun semuanya hanya sebatas duga menduga, bahkan tak sedikit media yang memvonis dia adalah korban cuci otak, tapi tidak ada satupun yang akurat, apakah Lian murni penculikan atau pencucian otak hingga tidak mengenali keluarga, kerabat, bahkan ihwal terdampar di At-ta’awun, ia tak ingat.

Aparat kepolisian, yang sempat melakukan penyelidikan dari hilang hingga diketemukan, tidak mendapatkan kebenaran dan kepastian mengenai apa yang dialaminya. Sehingga sampai detik ini tak ada satupun sumber yang bisa dipertanggungjawabkan terkait kasus hilangnya Lian. Lagi-lagi, dugaan hasil korban cuci otak NII tidak bisa dibantah, karena dari pengakuan keluarga dan teman Lian dipastikan terindikasi telah terpengaruh korban NII.

Bahkan sampai sekarang tidak ada lagi, perkembangan penyidikan terhadap Lian atau pengakuannya selama hilang apa saja yang dilakukan, dan dimana ia dilakukan proses yang diduga korban brainwash NII. Semuanya lewat dan hilang begitu saja.

Belum terang fenomena Lian soal motif menghilang dari pengakuannya langsung, ataupun pernyataan resmi polisi, muncul korban yang diduga diculik oleh kelompok aliran atau kelompok/organisasi sama. Melinda Fitriana alias Fitri, 24, mahasiswi Program Pasca Sarjana (S2) Ilmu Pangan, Fakutlas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) hilang, sejak Jum’at 15 April 2011. Kemudian ditemukan di salah satu hotel di Kebon Sirih, Jakarta Pusat setelah satu minggu hilang.

Sama halnya dengan Lian, kasus hilangnya Melinda ini, terekspose hanya awal dan ditemukan saja. Tidak ada pernyataan resmi Lian dan Melinda ini diculik dan otaknya dicuci oleh kelompok yang disebut-sebut Subversif itu. Hanya praduga saja, informasi yang diterima masyarakat. Sebab, keduanya saat hendak dimintai keterangan untuk kepentingan penyidikan dan penyelidikan lebih jelas. Dengan alasan trauma psikologis dan belum bisa diminta penjelasan, polisi dan jurnalis ‘tertidur’. Seolah masalah tersebut selesai.

Entah media dan polisinya yang malas atau memang sudah tidak menarik lagi, kalau ada kasus hilangnya seseorang yang diduga diculik kemudian ditemukan, seolah selesai. Akibatnya, dikalangan masyarakat terjadi kegamangan dengan masalah itu. Padahal satu sisi masyarakat butuh juga informasi terkait ending dari sebuah drama hilangnya anak manusia itu. Guna pembelajaran agar mewaspadai kejadian-kejadian yang dialami.

Tak hanya itu, imbas dari fenomena tersebut terkesan sengaja dimanfaatkan, sehingga muncul pengakuan-pengakuan korban penculikan dan pencucian otak oleh NII. Kondisi tersebut, diblow up kembali besar-besaran oleh media baik online, televisi maupun cetak. Kampus-kampus sekuler yang dianggap sebagai lingkungan yang tepat untuk merekrut anggota NII, seolah kebakaran jenggot. Mereka mengantisipasinya dengan memantau setiap aktifitas pengajian yang mencurigakan.

Bukan tanpa alasan media memblow up atau merunning kasus pencucian otak oleh NII, karena ratting dan pembaca yang melihat berita fenomena ini angkanya cukup tinggi dibandingkan berita-berita korupsi, politik, ekonomi, budaya dan peristiwa lainnya.

Alangkah bijaksana dan cerdas kalau media sanggup membongkar tabir yang diduga bagian dari konspirasi politik dan rekaya intelejen ini, fenomena misterius yang disebut klasik oleh sebagian kalangan ini. Karena pemerintah dan aparat berwenang (Polisi, Kejaksaan, TNI) sampai sekarang terkesan membiarkan, tidak ada langkah-langkah konkrit untuk mencegah atau memberantas kelompok-kelompok yang jelas-jelas sejak presiden pertama sampai sekarang Darull Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII) maupun Negara Islam Indonesia (NII) itu arahnya mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mudah-mudahan ada media yang rela mengeluarkan kocek investasi, bukan semata rating/oplah/viewer tapi demi kemaslahatan masyarakat banyak dalam membongkar konspirasi ‘gajah’ ini.

Untuk lebih lengkapnya soal keterlibatan negara memelihara NII sebagai kepentingan politik dan rekayasa intelejen, sudah banyak tulisan-tulisan dari LSM, Ulama, Depag bahkan para ahli di internet. Searching saja Ma’had Al Zaytun (MAZ) markas NII dan BIN atau sesatnya NII KW IX pimpinan AS Panji Gumilang alias Abu Toto dan Hendro Priyono mantan Kepala BIN.

Written by YudiBageur

April 26, 2011 pada 1:17 pm

Ditulis dalam Observ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: